DOWNLOAD INI AJA ASLINYA MODUL2
MODUL 2
TEORI DIODA SEMIKONDUKTOR
Pada modul ini akan diuraikan teori mengenai dioda semikonduktor yang
meliputi pengertian dioda, struktur dioda (PN
Junction), dan karakteristik dioda.
2.1 Pengertian Dioda
Dioda adalah komponen elektronika yang memiliki dua buah
terminal elektroda yang memiliki fungsi unik yaitu hanya dapat mengalirkan arus
satu arah saja. Sebagian besar dioda saat ini berdasarkan pada teknologi
semikonduktor yang biasa disebut sebagai dioda kristal atau dioda
semikonduktor. Struktur dioda tidak lain adalah sambungan semikonduktor p dan n
yang disebut PN Junction. Satu sisi adalah semikonduktor dengan tipe-p dan
satu sisinya yang lain adalah tipe-n. Pada tipe-p, lubang/hole (+) bertindak sebagai pembawa mayoritas sedangkan elektron (-)
sebagai pembawa minoritas. Sebaliknya, pada tipe-n elektron (-) bertindak
sebagai pembawa mayoritas dan hole
(+) sebagai pembawa minoritas. Dengan struktur demikian arus hanya akan dapat
mengalir dari sisi p (anoda) menuju sisi n (katoda). Gambar 2.1 menunjukkan
bentuk kemasan dioda sejajar dengan simbol rangkaiannya, pita menunjukkan sisi
katoda. Beberapa jenis dioda ditunjukkan
pada gambar 2.2.

Gambar 2.1 Bentuk kemasan dan simbol rangkaian dioda

Gambar 2.2 Beberapa jenis dioda
2.2 Stuktur Dioda (PN Junction)
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dioda terdiri
dari semikonduktor tipe-p dan tipe-n dengan struktur seperti yang terlihat pada
gambar 2.3.

Gambar 2.3 Struktur dioda (PN Junction)
Sifat dari dioda PN
dipengaruhi oleh pemberian catu daya. Apabila tidak diberi tegangan luar (open circuit) disebut tanpa bias (unbiased), apabila diberi tegangan
positif disebut forwad bias dan
diberi tegangan negatif disebut reverse
bias. Masing-masing menunjukkan operasi fisik yang berbeda.
2.2.1
PN Junction dalam Kondisi Tanpa Bias (Unbiased)
Pada kondisi ini dioda tidak dihubungkan dengan tegangan
luar atau dalam keadaan open circuit
(gambar 2.4). Tanda positif (+)
menunjukkan lubang (hole) sebagai
pembawa mayoritas sedangkan tanda negatif (-) menunjukkan elektron sebagai
pembawa mayoritas. Proses difusi terjadi sehingga tercipta medan listrik dan
arus drift terjadi.

Gambar 2.4 PN Junction
tanpa bias (unbiased)
Berikut penjelasan lebih lanjut :
A. Terjadinya
proses difusi
Proses difusi ini adalah pergerakan bebas (secara acak)
dari partikel (elektron atau hole)
akibat adanya eksitasi termal. Seperti
halnya difusi lainnya, elemen berpindah dari area yang konsentrasinya tinggi ke
konsentrasi yang rendah.
Pembawa mayoritas lubang (hole) pada daerah p berdifusi ke daerah n (dari kiri ke kanan). Pembawa
mayoritas elektron pada daerah n berdifusi ke daerah p (dari kanan ke kiri). Arus
difusi ID pada gambar 2.4 ditunjukkan
dalam arah lubang (hole).
B. Terjadinya
arus drift
Drift adalah pergerakan elektron dan hole yang disebabkan oleh medan listrik.
Lubang-lubang (holes)
yang berdifusi menyebrang ke daerah n akan segera bergabung kembali dengan
pembawa mayoritas elektron bebas di daerah n. Proses penggabungan kembali (recombination) ini menyebabkan hilangnya elektron bebas dalam material
n. Beberapa ikatan ion (bound charge) dari atom donor
tidak dapat dinetralkan lagi oleh elektron bebas (dikatakan uncovered). Hal yang sama terjadi pada
elektron yang berdifusi dari kanan ke kiri. Dengan demikian tercipta medan listrik di seluruh daerah
ini dan menginduksi arus drift pada pembawa minoritas pada setiap sisinya.
Elektron bebas pada sisi p (akibat eksitasi termal) yang muncul di sekitar tepi
junction menjadi hilang. Lubang (hole) di derah n (akibat eksitasi
termal) yang muncul di sekitar tepi junction
menjadi hilang. Terciptalah arus drift IS yang sangat tergantung
pada temperatur dan tidak tergantung pada tegangan barrier.
C. Pembentukan
daerah pengosongan (depletion region)
Akibat proses penggabungan kembali ion terjadi dekat
pertemuan (junction), maka dihasilkan
suatu daerah yang kehilangan/kekosongan pembawa mayoritas. Daerah ini disebut
sebagai daerah pengosongan (depletion
region). Perbedaan potensial dihasilkan di daerah ini (lihat gambar 2.5).
Perbedaan potensial ini bertindak sebagai penghalang terhadap arus difusi
selanjutnya yang menyebrangi daerah ini.

Gambar 2.5 Potensial Barrier
(VO)
Tegangan penghalang (barrier
voltage) begantung pada konsentrasi doping dan temperatur. Besarnya VT
bergantung pada temperatur. Lihat persamaan 2.1 dan 2.2.
..............................................(2.1)
dimana Vo = Tegangan
penghalang/barrier (Volt)
V T = Tegangan termal (Volt)
NA = Konsentrasi doping aseptor (cm‑3)
ND = Konsentrasi doping donor (cm‑3)
ni = Konsentrasi intrinsik (cm‑3)
dimana K = Konstanta Boltzman ( 1,38 . 10-23
joule oK -1)
T = Temperature (oK)
q = Muatan elektron ( 1,6 . 10 -19
coloumb )
Jika dihitung besarnya potensial barrier pada suhu suhu ruangan yaitu sekitar 300oK
adalah sekitar 0,7 V untuk dioda silikon 0,3 V untuk dioda germanium.
D. Pencapaian
pada Keadaan Setimbang (Equilibrium)
Setelah mencapai keadaan setimbang, arus difusi akan sama
dengan arus drift. Keadaan ini mempertahankan besarnya tegangan barrier. Kondisi kesetimbangan ini akan
selalu dipertahankan. Apabila arus difusi melebihi arus drift karena sesuatu
hal, maka akan lebih banyak ikatan ion (bound
charge) yang tidak dapat dinetralkan
lagi oleh elektron bebas (uncovered),
menyebabkan meningkatnya medan listrik sehingga arus drift pun meningkat dan
arus difusi menjadi berkurang. Sebaliknya, jika arus difusi menjadi lebih kecil
dari arus drift karena sesuatu hal, maka ion uncovered menjadi berkurang
sehingga medan listriknya pun berkurang dan akhirnya menyebabkan arus difusi
berkurang.
2.2.2 PN
Junction dalam Kondisi Bias Maju (Forward bias)
Gambar 2.6
menunjukkan sumber DC melintasi sebuah dioda. Sumber tegangan negatif
dihubungkan dengan bahan tipe-n dan positif dihubungkan dengan bahan tipe-p.
Hubungan ini menyebabkan PN junction menjadi dalam kondisi bias maju
(forward bias). Apabila sumber
tegangan dc melebihi tegangan penghalang dioda maka akan terjadi gaya dorong
pada lubang/hole (+) dan elektron
bebas (-) yang mengakibatkan lubang dan elektron bebas bergerak menuju
sambungan (junction). Pada saat
tersebut elektron bebas mempunyai cukup energi untuk meninggalkan daerah n, melintasi
lapisan pengosongan, dan bergabung dengan lubang-lubang. Begitu pula
lubang-lubang meninggalkan daerah p, melintasi lapisan pengosongan dan bergabung
dengan elektron-elektron bebas. Akibatnya daerah pengosongan menyempit dan
energi barrier menjadi sangat kecil. Arus
difusi (ID) meningkat hingga ID – IS = I. Hal
ini menyebabkan arus mengalir terutama akibat pembawa mayoritas (ID)
yaitu jenis P ke N dan jenis N ke P. Sebaliknya arus pembawa minoritas (IS)
mengalir arah sebaliknya tidak dipengaruhi oleh catu daya.

Gambar 2.6 PN Junction
bias maju (forward bias)
2.2.3 PN
Junction dalam Kondisi Bias Mundur (Reverse Bias)
Jika sumber
tegangan negatif DC dihubungkan dengan bahan tipe-p dan positif dihubungkan
dengan bahan tipe-n seperti yang di tunjukkan pada gambar 2.7 maka PN junction
berada dalam kondisi bias mundur (reverse
bias). Hubungan ini memaksa elektron bebas di dalam daerah n berpindah dari junction ke arah terminal positif
sumber, sedangkan lubang (hole) di
dalam daerah p juga bergerak menjauhi junction
ke arah terminal negatif. Hal ini menyebabkan daerah pengosongan melebar
dan energi barrier menjadi
besar. Akibatnya, arus drift (IS)
meningkat dan arus difusi (ID) menurun hingga mendekati 0. Sehingga
jika IS - ID = I dan ID ≈ 0 maka
I = IS.

Gambar 2.7 PN Junction bias mundur (reverse bias)
Dengan demikian pada kondisi ini hanya ada arus kecil
yaitu arus pembawa minoritas yang biasa disebut arus balik (reverse current), IS. Disamping itu juga terdapat arus bocor
permukaan, ISL. Jika
keadaan ini terus berlanjut, akan tercapai titik pendobrakan, yang disebut
dengan breakdown voltage. Pada keadaan ini dioda tidak lagi dapat menahan
aliran elektron yang terbentuk di lapisan pengosongan (deplesi).
2.3 Karakteristik Dioda
Dari kondisi PN junction yang telah dijelaskan di
atas maka dapat digambarkan kurva karakteristik dioda seperti yang ditunjukkan
pada gambar 2.8. Terdapat 3 daerah operasi dioda, yaitu: daerah forward bias jika V (tegangan dioda)
> 0, daerah reverse bias jika
V<0, dan daerah breakdown jika V
< -VZK. Sedangkan jika V=0 maka dioda dalam kondisi tanpa bias
(unbiased).

Gambar 2.8 Kurva Karakteristik Dioda
2.3.1
Daerah Forward bias
Besar arus dioda yang mengalir pada daerah ini sesuai
dengan persamaan 2.3 berikut.
dengan, i = Arus dioda (A)
IS =
Arus saturasi (jenuh) balik (A)
v =
Tegangan dioda (V)
VT = Tegangan termal (V)
η = Koefisien emisi dioda
Nilai η merepresentasikan perbedaan material dan struktur fisik
dioda. Nilainya dapat
berubah sesuai dengan arus dioda. Untuk dioda silikon η adalah sekitar 2 untuk arus
rendah dan turun ke bawah menjadi sekitar 1 pada arus yang lebih tinggi.
Dalam daerah forward
bias, tegangan pada saat arus mulai naik secara cepat disebut dengan tegangan kaki (knee voltage) dari dioda. Tegangan ini sama dengan tegangan
penghalang (barrier voltage) untuk
dioda silikon adalah sebesar VK ≈ 0,7V. Apabila tegangan dioda lebih besar dari tegangan
kaki maka dioda akan menghantar dengan mudah dan sebaliknya bila tegangan dioda
lebih kecil maka dioda tidak menghantar
dengan baik.
Di atas tegangan kaki, arus dioda akan membesar secara
cepat, dengan kata lain pertambahan yang kecil pada tegangan dioda akan
menyebabkan perubahan yang besar pada arus dioda. Setelah tegangan penghalang
terlampaui, yang menghalangi arus adalah hambatan Ohmic daerah P dan N. Jumlah hambatan tersebut dinamakan hambatan
bulk dioda. Hambatan tersebut didefinisikan pada persamaan 2.4 sebagai
berikut.
RB = RP +
RN ....................................................(2.4)
Apabila arus pada suatu dioda terlalu besar, maka panas
yang berlebihan dapat merusak dioda. Untuk itu dalam data sheet biasanya dituliskan arus
forward maksimum yang ditulis
sebagai Imax, Ifmax, IO, dan lain-lain
tergantung pada pembuatnya.
Sebagai contoh, sebuah dioda 1N456 memiliki batas arus forward maksimum 135 mA. Ini berarti bahwa dioda dapat mengalirkan
secara aman arus forward sebesar 135
mA.
Kita pun dapat menghitung disipasi daya sebuah dioda
melalui persamaan 2.5 berikut.
PD = V I ......................................................(2.5)
dengan PD
= Daya disipasi dioda (W)
V = Tegangan dioda (V)
I
= Arus dioda (A)
Sedangkan rating daya (ditunjukkan pada persamaan 2.6)
merupakan daya maksimum yang terlepas secara aman tanpa memperpendek usia dioda
atau merusak sifat-sifat dioda tersebut.
Pmax = Vmax. Imax ..................................................(2.6)
dimana Vmax merupakan tegangan yang bersesuaian
dengan Imax.
2.3.2
Daerah Reverse Bias
Pada daerah ini secara teoritis besar arus dioda adalah
sebagai berikut :
i ≈ - IS
.........................................................(2.7)
Pada kenyataannya selain arus saturasi balik IS dioda
sering kali memiliki arus bocor
permukaan (ISL) yang mengalir pada permukaan kristal. Hal ini
disebabkan karena permukaan yang tidak murni dan tidak sempurna dalam struktur
kristal. Namun demikian besarnya sangat kecil (dalam range nA) dan proporsional langsung terhadap tegangan balik VR.
Kita dapat mendefinisikan daya tahan kebocoran permukaan sesuai dengan
persamaan 2.8 berikut.
2.3.3
Daerah Breakdown
Jika kita terus menaikan terus tegangan balik maka pada
akhirnya akan sampai pada tegangan breakdown
dari dioda. Pada kurva karakteristik (gambar 2.8) tegangan kaki ini adalah VZK
dimana Z singkatan dari Zener dan K
singkatan dari knee.
Terdapat
2 buah efek breakdown yang mungkin
terjadi :
- Efek Zener
Zener breakdown terjadi ketika medan listrik
dalam lapisan pengosongan meningkat ke titik
di mana ia dapat memutuskan ikatan kovalen. Kita akan mempelajari lebih lanjut tentang Zener pada pembahasan mengenai dioda-dioda khusus.
- Efek Avalanche
Efek ini terjadi akibat pembawa minoritas memiliki energi kinetik yang cukup
untuk memutus ikatan kovalen ketika
bertubrukan dengan atom-atom lain. Proses ini terus berlanjut sampai
arus balik menjadi sangat besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar