Sabtu, 03 Oktober 2015

modul 1 pendahuluan dan dasar semikonduktor

 DOWNLOAD  FILE  INI DIA   DARI  4SHARE ......MODUL1

MODUL 1
PENDAHULUAN & DASAR SEMIKONDUKTOR

Pada modul ini akan dibahas mengenai pendahuluan atau pengantar dasar elektronika dan dilanjutkan dengan pembahasan mengenai dasar semikonduktor.

1. Pendahuluan
Elektronika merupakan pengembangan dari ilmu listrik yang mempelajari teori tentang gerakan-gerakan elektron dari komponen-komponen aktif serta penggunaannya. Ilmu elektronika dikelompokkan menjadi dua cabang yang luas yaitu yang berhubungan dengan aliran elektron dalam tabung hampa, gas atau benda padat disebut elektronika fisika. Sedang yang berhubungan dengan perencanaan, pengembangan dan pemakaian peralatan disebut teknik elektronika.

1.1 Perkembangan Elektronika
Bidang elektronika dimulai dengan penemuan oleh Hertz (1888) bahwa energi elektromagnetik dapat dirambatkan dan dideteksi. Elektronika memasuki suatu masa evolusi yang cepat dengan ditemukan dioda tabung oleh Fleming (1903), diikuti penemuan pendeteksi kristal oleh Picard (1906) dan selanjutnya penemuan triode tabung oleh De Forest (1907). Perkembangan selanjutnya dengan ditemukan komponen
semikonduktor sebagai bahan dasar pembuatan komponen elektronika; dan pada tahun
1948 ditemukan transistor oleh Bardeen dan Brattain selanjutnya oleh Shockly tahun 1949 dikembangkan teori junction transisitor dan berkembang terus sampai ke komponen terpadu (IC = integrated Circuit) hingga sistem mekanik dalam chip mikroelektronik (MEMS = Microelectromechanical System). Elektronika telah maju dengan pesat dan digunakan secara luas di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan modern.

1.2 Tabung Elektron
Tabung elektron merupakan komponen elektronika yang berbentuk tabung silinder yang di dalam ruang hampa atau sebagian dihampakan terjadi penghantaran elektronis. Di dalam tabung elektron terpasang elektroda-elektroda dan pemanas (heater). Tabung elektron terdapat 2 macam yaitu :

  1. Tabung hampa yaitu tabung elektron yang di dalamnya tedapat tekanan gas sangat rendah sehingga tak berpengaruh pada kerja tabung.

  1. Tabung gas yaitu tabung elektron yang di dalamnya terdapat gas mulia seperti helium, neon,argon, krypton dan xenon untuk maksud-maksud tertentu. Uap dari gas-gas tersebut mempengaruhi kerja tabung.

Tabung elektron didapatkan dalam berbagai jenis dengan ditandai jumlah elektrodanya yaitu dioda; trioda; tetroda; pentode; hexoda ; septoda dst. Konstruksi tabung elektron dan simbolnya terlihat pada gambar berikut.
1.3 Pancaran /emisi elektron
Emisi elektron adalah peristiwa memancarnya elektron dari bahan emisi karena pengaruh dari luar yang mampu mengalahkan rintangan permukaan bahan emisi. Emisi elektron dapat terjadi akibat :
  1. Panas disebut emisi thermis
  2. Medan listrik disebut emisi kuat medan
  3. Sinar (foto) disebut emisi foto.
  4. Enersi elektron disebur emisi primer
  5. Pantulan elektron disebut emisi sekunder
Tabung elektron bekerjanya berdasarkan emisi termis dan emisi kuat medan.

1.4 Bahan emisi
Oleh karena tabung berkerja berdasarkan emisi thermis maka dibutuhkan bahan emisi yang mempunyai daya tahan terhadap panas ( OK -1) . Bahan-bahan tersebut adalah :
2. Dasar Semikonduktor
Semikonduktor merupakan elemen dasar dari komponen elektronika seperti dioda, transistor dan sebuah IC (integrated circuit). Disebut semi atau setengah konduktor, karena bahan ini memang bukan konduktor murni.

Perbedaan sifat pada zat padat (misal: konduktor, isolator, semikonduktor atau superkonduktor) disebabkan oleh: perbedaan gaya ikat diantara atom-atom, ion-ion, atau molekul-molekul tersebut. Semua ikatan dalam bahan padat melibatkan gaya listrik, dan perbedaan utama diantara ikatan tersebut tergantung pada jumlah elektron terluar. Bahan-bahan logam seperti tembaga, besi, timah disebut sebagai konduktor yang baik sebab logam memiliki susunan atom yang sedemikian rupa, sehingga elektronnya dapat bergerak bebas.

Semikonduktor adalah sebuah bahan dengan konduktivitas listrik yang berada di antara insulator dan konduktor. Sebuah semikonduktor bersifat sebagai insulator pada temperatur yang sangat rendah, namun pada temperatur ruangan besifat sebagai konduktor. Bahan semikonduksi yang sering digunakan adalah silikon, germanium, dan gallium arsenide.

2.1  Pita Energi
Teori pita energi dapat menerangkan sifat konduksi listrik suatu bahan.

Pita energi terdiri atas dua jenis yaitu:
  1. Pita valensi (terisi penuh oleh 2N elektron di mana N adalah jumlah atom suatu bahan)
  2. Pita konduksi (terisi sebagian elektron atau kosong)
Di antara pita valensi dan pita konduksi terdapat celah energi yang layak tidak boleh terisi elektron (Band Gap). Diagram pita (band) energi elektron untuk bahan konduktor, semikonduktor dan isolator seperti terlihat pada gambar 2. berikut ini.
                                    Konduktor       Semikonduktor     Isolator
Gambar 2 Pita Energi Bahan Konduktor, Semikonduktor dan Isolator

Besar level energi :
W = Q.V (elektron Volt / eV ) …………………………..….(1.1)
                                           = (1,6 . 10 -19 coulomb). V
                                 1. eV = 1,6 . 10 -19 joule

2.2. Bahan Dasar Semikonduktor
Berdasarkan struktur partikel (atom, ion, atau molekul) penyusunnya, bahan padat dibagi menjadi dua jenis yaitu bahan padat kristal dan bahan padat amorf. Bahan padat kristal adalah bahan padat yang struktur partikel penyusunnya memiliki keteraturan panjang dan berulang secara periodik. Bahan padat amorf adalah bahan padat yang struktur partikel penyusunnya memiliki keteraturan yang pendek.

Khusus untuk bahan semikonduktor ada dua jenis, yakni yang berstruktur kristal (misal: Silikon, Germanium, Gallium Arsenid, dsb.) dan untuk berstruktur amorf (misal: Amorphous silicon)). Dilihat dari bahan dasarnya semikonduktor dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu semikonduktor intrinsik (murni) dan semikonduktor ekstrinsik (tidak murni).

2.2.1 Semikonduktor Intrinsik (murni)
Silikon dan germanium merupakan dua jenis semikonduktor yang sangat penting dalam elektronika. Keduanya terletak pada kolom empat dalam tabel periodik (gambar 3) dan mempunyai elektron valensi empat. Struktur kristal silikon dan germanium berbentuk tetrahedral (gambar 4) dengan setiap atom memakai bersama sebuah elektron valensi dengan atom-atom tetangganya.

Gambar 3 Tabel Periodik Unsur Kimia
Gambar 4 Struktur Kristal Silikon (Si)
a. Struktur kristal diamond b. Ikatan tetrahedron c. Ikatan tetrahedron 2 dimensi
Gambar 5 memperlihatkan bentuk ikatan kovalen silikon dalam dua dimensi. Pada temperatur mendekati harga nol mutlak, elektron pada kulit terluar terikat dengan erat sehingga tidak terdapat elektron bebas atau silikon bersifat sebagai insulator.
Gambar 5 Ikatan Kovalen Si dalam 2 Dimensi

Energi yang diperlukan untuk memutus sebuah ikatan kovalen adalah sebesar 1,1 eV untuk silikon dan 0,7 eV untuk germanium. Pada temperatur ruang (300 OK), sejumlah elektron mempunyai energi yang cukup besar untuk melepaskan diri dari ikatan dan tereksitasi dari pita valensi ke pita konduksi menjadi elektron bebas (gambar 6). Besarnya energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron dari pita valensi ke pita konduksi ini disebut energi terlarang (energy gap).

Jika sebuah ikatan kovalen terputus, maka akan terjadi kekosongan atau lubang (hole). Pada daerah dimana terjadi kekosongan akan terdapat kelebihan muatan positif, dan daerah yang ditempati elektron bebas mempunyai kelebihan muatan negatif. Kedua muatan inilah yang memberikan kontribusi adanya aliran listrik pada semikonduktor murni. Jika elektron valensi dari ikatan kovalen yang lain mengisi lubang tersebut, maka akan terjadi lubang baru di tempat yang lain dan seolah-olah sebuah muatan positif bergerak dari lubang yang lama ke lubang baru. Proses aliran muatan ini, yang biasa disebut sebagai “arus drift” dapat dituliskan sebagai berikut “Peristiwa hantaran listrik pada semikonduktor adalah akibat adanya dua partikel masing-masing bermuatan positif dan negatif yang bergerak dengan arah yang berlawanan akibat adanya pengaruh medan listrik.”
Gambar 6 a) Struktur kristal silikon memperlihatkan adanya sebuah ikatan kovalen
yang terputus dan b) Diagram pita energi menunjukkan tereksitasinya elektron ke pita konduksi dan meninggalkan lubang di pita valensi

Akibat adanya dua pembawa muatan tersebut, besarnya rapat arus dinyatakan sebagai:
e = se ................................................. (1.2)
dimana:    n dan p                   = konnsentrasi elektron dan lubang (m-3)
                µn dan µp                 = mobilitas elektron dan lubang (m2 V-1 s-1)
                    = konduktivitas (S cm-1)
Karena timbulnya lubang dan elektron terjadi secara serentak, maka pada semikonduktor murni, jumlah lubang sama dengan jumlah elektron atau dituliskan sebagai :                                          n = p = ni .............................................................(1.3)
dimana n i disebut sebagai konsentrasi intrinsik. Beberapa properti dasar silikon dan germanium diperlihatkan pada tabel 1.
Tabel 1 Beberapa properti dasar silikon dan germanium pada 300OK
2.2.2 Semikonduktor Ekstrinsik (Tak Murni)
Kita dapat memasukkan pengotor berupa atom-atom dari kolom tiga atau lima dalam
tabel periodik (memberi doping) ke dalam silikon atau germanium murni (lihat gambar
7). Elemen semikonduktor beserta atom pengotor yang biasa digunakan diperlihatkan
pada tabel 2.
Tabel 2 Elemen semikonduktor pada tabel periodik

2.2.2.1 Semikonduktor tipe-n
Semikonduktor tipe-n dapat dibuat dengan menambahkan sejumlah kecil atom pengotor
pentavalen (antimony, phosphorus atau arsenic) pada silikon murni. Atom-atom pengotor (dopan) ini mempunyai lima elektron valensi sehingga secara efektif memiliki muatan sebesar +5q. Saat sebuah atom pentavalen menempati posisi atom silikon dalam kisi kristal, hanya empat elektron valensi yang dapat membentuk ikatan kovalen lengkap, dan tersisa sebuah elektron yang tidak berpasangan (lihat gambar 7).

Dengan adanya energi thermal yang kecil saja, sisa elektron ini akan menjadi elektron bebas dan siap menjadi pembawa muatan dalam proses hantaran listrik. Material yang dihasilkan dari proses pengotoran ini disebut semikonduktor tipe-n karena menghasilkan pembawa muatan negatif dari kristal yang netral. Karena atom pengotor memberikan elektron, maka atom pengotor ini disebut sebagai atom donor. Secara skematik semikonduktor tipe-n digambarkan seperti terlihat pada gambar 7.



Gambar 7 a) Struktur kristal silikon dengan sebuah atom pengotor valensi lima
menggantikan posisi salah satu atom silikon dan b) Struktur pita energi
semikonduktor tipe-n, perhatikan letak tingkat energi atom donor

2.2.2.2 Semikonduktor tipe-p
Dengan cara yang sama seperti pada semikonduktor tipe-n, semikonduktor tipe-p dapat dibuat dengan menambahkan sejumlah kecif atom pengotor trivalen (aluminium, boron, galium atau indium) pada semikonduktor murni, misalnya silikon murni. Atom-atom pengotor (dopan) ini mempunyai tiga elektron valensi sehingga secara efektif hanya dapat membentuk tiga ikatan kovalen. Saat sebuah atom trivalen menempati posisi atom silikon dalam kisi kristal, terbentuk tiga ikatan kovalen lengkap, dan tersisa sebuah muatan positif dari atom silikon yang tidak berpasangan (lihat gambar 8) yang disebut lubang (hole).  Material yang dihasilkan dari proses pengotoran ini disebut semikonduktor tipe-p karena menghasilkan pembawa muatan negatif pada kristal yang netral. Karena atom pengotor menerima elektron, maka atom pengotor ini disebut sebagai atom aseptor (acceptor). Secara skematik semikonduktor tipe-p digambarkaMODUL 1
PENDAHULUAN & DASAR SEMIKONDUKTOR

Pada modul ini akan dibahas mengenai pendahuluan atau pengantar dasar elektronika dan dilanjutkan dengan pembahasan mengenai dasar semikonduktor.

1. Pendahuluan
Elektronika merupakan pengembangan dari ilmu listrik yang mempelajari teori tentang gerakan-gerakan elektron dari komponen-komponen aktif serta penggunaannya. Ilmu elektronika dikelompokkan menjadi dua cabang yang luas yaitu yang berhubungan dengan aliran elektron dalam tabung hampa, gas atau benda padat disebut elektronika fisika. Sedang yang berhubungan dengan perencanaan, pengembangan dan pemakaian peralatan disebut teknik elektronika.

1.1 Perkembangan Elektronika
Bidang elektronika dimulai dengan penemuan oleh Hertz (1888) bahwa energi elektromagnetik dapat dirambatkan dan dideteksi. Elektronika memasuki suatu masa evolusi yang cepat dengan ditemukan dioda tabung oleh Fleming (1903), diikuti penemuan pendeteksi kristal oleh Picard (1906) dan selanjutnya penemuan triode tabung oleh De Forest (1907). Perkembangan selanjutnya dengan ditemukan komponen
semikonduktor sebagai bahan dasar pembuatan komponen elektronika; dan pada tahun
1948 ditemukan transistor oleh Bardeen dan Brattain selanjutnya oleh Shockly tahun 1949 dikembangkan teori junction transisitor dan berkembang terus sampai ke komponen terpadu (IC = integrated Circuit) hingga sistem mekanik dalam chip mikroelektronik (MEMS = Microelectromechanical System). Elektronika telah maju dengan pesat dan digunakan secara luas di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan modern.

1.2 Tabung Elektron
Tabung elektron merupakan komponen elektronika yang berbentuk tabung silinder yang di dalam ruang hampa atau sebagian dihampakan terjadi penghantaran elektronis. Di dalam tabung elektron terpasang elektroda-elektroda dan pemanas (heater). Tabung elektron terdapat 2 macam yaitu :

  1. Tabung hampa yaitu tabung elektron yang di dalamnya tedapat tekanan gas sangat rendah sehingga tak berpengaruh pada kerja tabung.

  1. Tabung gas yaitu tabung elektron yang di dalamnya terdapat gas mulia seperti helium, neon,argon, krypton dan xenon untuk maksud-maksud tertentu. Uap dari gas-gas tersebut mempengaruhi kerja tabung.

Tabung elektron didapatkan dalam berbagai jenis dengan ditandai jumlah elektrodanya yaitu dioda; trioda; tetroda; pentode; hexoda ; septoda dst. Konstruksi tabung elektron dan simbolnya terlihat pada gambar berikut.
1.3 Pancaran /emisi elektron
Emisi elektron adalah peristiwa memancarnya elektron dari bahan emisi karena pengaruh dari luar yang mampu mengalahkan rintangan permukaan bahan emisi. Emisi elektron dapat terjadi akibat :
  1. Panas disebut emisi thermis
  2. Medan listrik disebut emisi kuat medan
  3. Sinar (foto) disebut emisi foto.
  4. Enersi elektron disebur emisi primer
  5. Pantulan elektron disebut emisi sekunder
Tabung elektron bekerjanya berdasarkan emisi termis dan emisi kuat medan.

1.4 Bahan emisi
Oleh karena tabung berkerja berdasarkan emisi thermis maka dibutuhkan bahan emisi yang mempunyai daya tahan terhadap panas ( OK -1) . Bahan-bahan tersebut adalah :
2. Dasar Semikonduktor
Semikonduktor merupakan elemen dasar dari komponen elektronika seperti dioda, transistor dan sebuah IC (integrated circuit). Disebut semi atau setengah konduktor, karena bahan ini memang bukan konduktor murni.

Perbedaan sifat pada zat padat (misal: konduktor, isolator, semikonduktor atau superkonduktor) disebabkan oleh: perbedaan gaya ikat diantara atom-atom, ion-ion, atau molekul-molekul tersebut. Semua ikatan dalam bahan padat melibatkan gaya listrik, dan perbedaan utama diantara ikatan tersebut tergantung pada jumlah elektron terluar. Bahan-bahan logam seperti tembaga, besi, timah disebut sebagai konduktor yang baik sebab logam memiliki susunan atom yang sedemikian rupa, sehingga elektronnya dapat bergerak bebas.

Semikonduktor adalah sebuah bahan dengan konduktivitas listrik yang berada di antara insulator dan konduktor. Sebuah semikonduktor bersifat sebagai insulator pada temperatur yang sangat rendah, namun pada temperatur ruangan besifat sebagai konduktor. Bahan semikonduksi yang sering digunakan adalah silikon, germanium, dan gallium arsenide.

2.1  Pita Energi
Teori pita energi dapat menerangkan sifat konduksi listrik suatu bahan.

Pita energi terdiri atas dua jenis yaitu:
  1. Pita valensi (terisi penuh oleh 2N elektron di mana N adalah jumlah atom suatu bahan)
  2. Pita konduksi (terisi sebagian elektron atau kosong)
Di antara pita valensi dan pita konduksi terdapat celah energi yang layak tidak boleh terisi elektron (Band Gap). Diagram pita (band) energi elektron untuk bahan konduktor, semikonduktor dan isolator seperti terlihat pada gambar 2. berikut ini.
                                    Konduktor       Semikonduktor     Isolator
Gambar 2 Pita Energi Bahan Konduktor, Semikonduktor dan Isolator

Besar level energi :
W = Q.V (elektron Volt / eV ) …………………………..….(1.1)
                                           = (1,6 . 10 -19 coulomb). V
                                 1. eV = 1,6 . 10 -19 joule

2.2. Bahan Dasar Semikonduktor
Berdasarkan struktur partikel (atom, ion, atau molekul) penyusunnya, bahan padat dibagi menjadi dua jenis yaitu bahan padat kristal dan bahan padat amorf. Bahan padat kristal adalah bahan padat yang struktur partikel penyusunnya memiliki keteraturan panjang dan berulang secara periodik. Bahan padat amorf adalah bahan padat yang struktur partikel penyusunnya memiliki keteraturan yang pendek.

Khusus untuk bahan semikonduktor ada dua jenis, yakni yang berstruktur kristal (misal: Silikon, Germanium, Gallium Arsenid, dsb.) dan untuk berstruktur amorf (misal: Amorphous silicon)). Dilihat dari bahan dasarnya semikonduktor dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu semikonduktor intrinsik (murni) dan semikonduktor ekstrinsik (tidak murni).

2.2.1 Semikonduktor Intrinsik (murni)
Silikon dan germanium merupakan dua jenis semikonduktor yang sangat penting dalam elektronika. Keduanya terletak pada kolom empat dalam tabel periodik (gambar 3) dan mempunyai elektron valensi empat. Struktur kristal silikon dan germanium berbentuk tetrahedral (gambar 4) dengan setiap atom memakai bersama sebuah elektron valensi dengan atom-atom tetangganya.

Gambar 3 Tabel Periodik Unsur Kimia
Gambar 4 Struktur Kristal Silikon (Si)
a. Struktur kristal diamond b. Ikatan tetrahedron c. Ikatan tetrahedron 2 dimensi
Gambar 5 memperlihatkan bentuk ikatan kovalen silikon dalam dua dimensi. Pada temperatur mendekati harga nol mutlak, elektron pada kulit terluar terikat dengan erat sehingga tidak terdapat elektron bebas atau silikon bersifat sebagai insulator.
Gambar 5 Ikatan Kovalen Si dalam 2 Dimensi

Energi yang diperlukan untuk memutus sebuah ikatan kovalen adalah sebesar 1,1 eV untuk silikon dan 0,7 eV untuk germanium. Pada temperatur ruang (300 OK), sejumlah elektron mempunyai energi yang cukup besar untuk melepaskan diri dari ikatan dan tereksitasi dari pita valensi ke pita konduksi menjadi elektron bebas (gambar 6). Besarnya energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron dari pita valensi ke pita konduksi ini disebut energi terlarang (energy gap).

Jika sebuah ikatan kovalen terputus, maka akan terjadi kekosongan atau lubang (hole). Pada daerah dimana terjadi kekosongan akan terdapat kelebihan muatan positif, dan daerah yang ditempati elektron bebas mempunyai kelebihan muatan negatif. Kedua muatan inilah yang memberikan kontribusi adanya aliran listrik pada semikonduktor murni. Jika elektron valensi dari ikatan kovalen yang lain mengisi lubang tersebut, maka akan terjadi lubang baru di tempat yang lain dan seolah-olah sebuah muatan positif bergerak dari lubang yang lama ke lubang baru. Proses aliran muatan ini, yang biasa disebut sebagai “arus drift” dapat dituliskan sebagai berikut “Peristiwa hantaran listrik pada semikonduktor adalah akibat adanya dua partikel masing-masing bermuatan positif dan negatif yang bergerak dengan arah yang berlawanan akibat adanya pengaruh medan listrik.”
Gambar 6 a) Struktur kristal silikon memperlihatkan adanya sebuah ikatan kovalen
yang terputus dan b) Diagram pita energi menunjukkan tereksitasinya elektron ke pita konduksi dan meninggalkan lubang di pita valensi

Akibat adanya dua pembawa muatan tersebut, besarnya rapat arus dinyatakan sebagai:
e = se ................................................. (1.2)
dimana:    n dan p                   = konnsentrasi elektron dan lubang (m-3)
                µn dan µp                 = mobilitas elektron dan lubang (m2 V-1 s-1)
                    = konduktivitas (S cm-1)
Karena timbulnya lubang dan elektron terjadi secara serentak, maka pada semikonduktor murni, jumlah lubang sama dengan jumlah elektron atau dituliskan sebagai :                                          n = p = ni .............................................................(1.3)
dimana n i disebut sebagai konsentrasi intrinsik. Beberapa properti dasar silikon dan germanium diperlihatkan pada tabel 1.
Tabel 1 Beberapa properti dasar silikon dan germanium pada 300OK
2.2.2 Semikonduktor Ekstrinsik (Tak Murni)
Kita dapat memasukkan pengotor berupa atom-atom dari kolom tiga atau lima dalam
tabel periodik (memberi doping) ke dalam silikon atau germanium murni (lihat gambar
7). Elemen semikonduktor beserta atom pengotor yang biasa digunakan diperlihatkan
pada tabel 2.
Tabel 2 Elemen semikonduktor pada tabel periodik

2.2.2.1 Semikonduktor tipe-n
Semikonduktor tipe-n dapat dibuat dengan menambahkan sejumlah kecil atom pengotor
pentavalen (antimony, phosphorus atau arsenic) pada silikon murni. Atom-atom pengotor (dopan) ini mempunyai lima elektron valensi sehingga secara efektif memiliki muatan sebesar +5q. Saat sebuah atom pentavalen menempati posisi atom silikon dalam kisi kristal, hanya empat elektron valensi yang dapat membentuk ikatan kovalen lengkap, dan tersisa sebuah elektron yang tidak berpasangan (lihat gambar 7).

Dengan adanya energi thermal yang kecil saja, sisa elektron ini akan menjadi elektron bebas dan siap menjadi pembawa muatan dalam proses hantaran listrik. Material yang dihasilkan dari proses pengotoran ini disebut semikonduktor tipe-n karena menghasilkan pembawa muatan negatif dari kristal yang netral. Karena atom pengotor memberikan elektron, maka atom pengotor ini disebut sebagai atom donor. Secara skematik semikonduktor tipe-n digambarkan seperti terlihat pada gambar 7.



Gambar 7 a) Struktur kristal silikon dengan sebuah atom pengotor valensi lima
menggantikan posisi salah satu atom silikon dan b) Struktur pita energi
semikonduktor tipe-n, perhatikan letak tingkat energi atom donor

2.2.2.2 Semikonduktor tipe-p
Dengan cara yang sama seperti pada semikonduktor tipe-n, semikonduktor tipe-p dapat dibuat dengan menambahkan sejumlah kecif atom pengotor trivalen (aluminium, boron, galium atau indium) pada semikonduktor murni, misalnya silikon murni. Atom-atom pengotor (dopan) ini mempunyai tiga elektron valensi sehingga secara efektif hanya dapat membentuk tiga ikatan kovalen. Saat sebuah atom trivalen menempati posisi atom silikon dalam kisi kristal, terbentuk tiga ikatan kovalen lengkap, dan tersisa sebuah muatan positif dari atom silikon yang tidak berpasangan (lihat gambar 8) yang disebut lubang (hole).  Material yang dihasilkan dari proses pengotoran ini disebut semikonduktor tipe-p karena menghasilkan pembawa muatan negatif pada kristal yang netral. Karena atom pengotor menerima elektron, maka atom pengotor ini disebut sebagai atom aseptor (acceptor). Secara skematik semikonduktor tipe-p digambarkan seperti terlihat pada gambar 8.

MODUL 1
PENDAHULUAN & DASAR SEMIKONDUKTOR

Pada modul ini akan dibahas mengenai pendahuluan atau pengantar dasar elektronika dan dilanjutkan dengan pembahasan mengenai dasar semikonduktor.

1. Pendahuluan
Elektronika merupakan pengembangan dari ilmu listrik yang mempelajari teori tentang gerakan-gerakan elektron dari komponen-komponen aktif serta penggunaannya. Ilmu elektronika dikelompokkan menjadi dua cabang yang luas yaitu yang berhubungan dengan aliran elektron dalam tabung hampa, gas atau benda padat disebut elektronika fisika. Sedang yang berhubungan dengan perencanaan, pengembangan dan pemakaian peralatan disebut teknik elektronika.

1.1 Perkembangan Elektronika
Bidang elektronika dimulai dengan penemuan oleh Hertz (1888) bahwa energi elektromagnetik dapat dirambatkan dan dideteksi. Elektronika memasuki suatu masa evolusi yang cepat dengan ditemukan dioda tabung oleh Fleming (1903), diikuti penemuan pendeteksi kristal oleh Picard (1906) dan selanjutnya penemuan triode tabung oleh De Forest (1907). Perkembangan selanjutnya dengan ditemukan komponen
semikonduktor sebagai bahan dasar pembuatan komponen elektronika; dan pada tahun
1948 ditemukan transistor oleh Bardeen dan Brattain selanjutnya oleh Shockly tahun 1949 dikembangkan teori junction transisitor dan berkembang terus sampai ke komponen terpadu (IC = integrated Circuit) hingga sistem mekanik dalam chip mikroelektronik (MEMS = Microelectromechanical System). Elektronika telah maju dengan pesat dan digunakan secara luas di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan modern.

1.2 Tabung Elektron
Tabung elektron merupakan komponen elektronika yang berbentuk tabung silinder yang di dalam ruang hampa atau sebagian dihampakan terjadi penghantaran elektronis. Di dalam tabung elektron terpasang elektroda-elektroda dan pemanas (heater). Tabung elektron terdapat 2 macam yaitu :

  1. Tabung hampa yaitu tabung elektron yang di dalamnya tedapat tekanan gas sangat rendah sehingga tak berpengaruh pada kerja tabung.

  1. Tabung gas yaitu tabung elektron yang di dalamnya terdapat gas mulia seperti helium, neon,argon, krypton dan xenon untuk maksud-maksud tertentu. Uap dari gas-gas tersebut mempengaruhi kerja tabung.

Tabung elektron didapatkan dalam berbagai jenis dengan ditandai jumlah elektrodanya yaitu dioda; trioda; tetroda; pentode; hexoda ; septoda dst. Konstruksi tabung elektron dan simbolnya terlihat pada gambar berikut.
1.3 Pancaran /emisi elektron
Emisi elektron adalah peristiwa memancarnya elektron dari bahan emisi karena pengaruh dari luar yang mampu mengalahkan rintangan permukaan bahan emisi. Emisi elektron dapat terjadi akibat :
  1. Panas disebut emisi thermis
  2. Medan listrik disebut emisi kuat medan
  3. Sinar (foto) disebut emisi foto.
  4. Enersi elektron disebur emisi primer
  5. Pantulan elektron disebut emisi sekunder
Tabung elektron bekerjanya berdasarkan emisi termis dan emisi kuat medan.

1.4 Bahan emisi
Oleh karena tabung berkerja berdasarkan emisi thermis maka dibutuhkan bahan emisi yang mempunyai daya tahan terhadap panas ( OK -1) . Bahan-bahan tersebut adalah :
2. Dasar Semikonduktor
Semikonduktor merupakan elemen dasar dari komponen elektronika seperti dioda, transistor dan sebuah IC (integrated circuit). Disebut semi atau setengah konduktor, karena bahan ini memang bukan konduktor murni.

Perbedaan sifat pada zat padat (misal: konduktor, isolator, semikonduktor atau superkonduktor) disebabkan oleh: perbedaan gaya ikat diantara atom-atom, ion-ion, atau molekul-molekul tersebut. Semua ikatan dalam bahan padat melibatkan gaya listrik, dan perbedaan utama diantara ikatan tersebut tergantung pada jumlah elektron terluar. Bahan-bahan logam seperti tembaga, besi, timah disebut sebagai konduktor yang baik sebab logam memiliki susunan atom yang sedemikian rupa, sehingga elektronnya dapat bergerak bebas.

Semikonduktor adalah sebuah bahan dengan konduktivitas listrik yang berada di antara insulator dan konduktor. Sebuah semikonduktor bersifat sebagai insulator pada temperatur yang sangat rendah, namun pada temperatur ruangan besifat sebagai konduktor. Bahan semikonduksi yang sering digunakan adalah silikon, germanium, dan gallium arsenide.

2.1  Pita Energi
Teori pita energi dapat menerangkan sifat konduksi listrik suatu bahan.

Pita energi terdiri atas dua jenis yaitu:
  1. Pita valensi (terisi penuh oleh 2N elektron di mana N adalah jumlah atom suatu bahan)
  2. Pita konduksi (terisi sebagian elektron atau kosong)
Di antara pita valensi dan pita konduksi terdapat celah energi yang layak tidak boleh terisi elektron (Band Gap). Diagram pita (band) energi elektron untuk bahan konduktor, semikonduktor dan isolator seperti terlihat pada gambar 2. berikut ini.
                                    Konduktor       Semikonduktor     Isolator
Gambar 2 Pita Energi Bahan Konduktor, Semikonduktor dan Isolator

Besar level energi :
W = Q.V (elektron Volt / eV ) …………………………..….(1.1)
                                           = (1,6 . 10 -19 coulomb). V
                                 1. eV = 1,6 . 10 -19 joule

2.2. Bahan Dasar Semikonduktor
Berdasarkan struktur partikel (atom, ion, atau molekul) penyusunnya, bahan padat dibagi menjadi dua jenis yaitu bahan padat kristal dan bahan padat amorf. Bahan padat kristal adalah bahan padat yang struktur partikel penyusunnya memiliki keteraturan panjang dan berulang secara periodik. Bahan padat amorf adalah bahan padat yang struktur partikel penyusunnya memiliki keteraturan yang pendek.

Khusus untuk bahan semikonduktor ada dua jenis, yakni yang berstruktur kristal (misal: Silikon, Germanium, Gallium Arsenid, dsb.) dan untuk berstruktur amorf (misal: Amorphous silicon)). Dilihat dari bahan dasarnya semikonduktor dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu semikonduktor intrinsik (murni) dan semikonduktor ekstrinsik (tidak murni).

2.2.1 Semikonduktor Intrinsik (murni)
Silikon dan germanium merupakan dua jenis semikonduktor yang sangat penting dalam elektronika. Keduanya terletak pada kolom empat dalam tabel periodik (gambar 3) dan mempunyai elektron valensi empat. Struktur kristal silikon dan germanium berbentuk tetrahedral (gambar 4) dengan setiap atom memakai bersama sebuah elektron valensi dengan atom-atom tetangganya.

Gambar 3 Tabel Periodik Unsur Kimia
Gambar 4 Struktur Kristal Silikon (Si)
a. Struktur kristal diamond b. Ikatan tetrahedron c. Ikatan tetrahedron 2 dimensi
Gambar 5 memperlihatkan bentuk ikatan kovalen silikon dalam dua dimensi. Pada temperatur mendekati harga nol mutlak, elektron pada kulit terluar terikat dengan erat sehingga tidak terdapat elektron bebas atau silikon bersifat sebagai insulator.
Gambar 5 Ikatan Kovalen Si dalam 2 Dimensi

Energi yang diperlukan untuk memutus sebuah ikatan kovalen adalah sebesar 1,1 eV untuk silikon dan 0,7 eV untuk germanium. Pada temperatur ruang (300 OK), sejumlah elektron mempunyai energi yang cukup besar untuk melepaskan diri dari ikatan dan tereksitasi dari pita valensi ke pita konduksi menjadi elektron bebas (gambar 6). Besarnya energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron dari pita valensi ke pita konduksi ini disebut energi terlarang (energy gap).

Jika sebuah ikatan kovalen terputus, maka akan terjadi kekosongan atau lubang (hole). Pada daerah dimana terjadi kekosongan akan terdapat kelebihan muatan positif, dan daerah yang ditempati elektron bebas mempunyai kelebihan muatan negatif. Kedua muatan inilah yang memberikan kontribusi adanya aliran listrik pada semikonduktor murni. Jika elektron valensi dari ikatan kovalen yang lain mengisi lubang tersebut, maka akan terjadi lubang baru di tempat yang lain dan seolah-olah sebuah muatan positif bergerak dari lubang yang lama ke lubang baru. Proses aliran muatan ini, yang biasa disebut sebagai “arus drift” dapat dituliskan sebagai berikut “Peristiwa hantaran listrik pada semikonduktor adalah akibat adanya dua partikel masing-masing bermuatan positif dan negatif yang bergerak dengan arah yang berlawanan akibat adanya pengaruh medan listrik.”
Gambar 6 a) Struktur kristal silikon memperlihatkan adanya sebuah ikatan kovalen
yang terputus dan b) Diagram pita energi menunjukkan tereksitasinya elektron ke pita konduksi dan meninggalkan lubang di pita valensi

Akibat adanya dua pembawa muatan tersebut, besarnya rapat arus dinyatakan sebagai:
e = se ................................................. (1.2)
dimana:    n dan p                   = konnsentrasi elektron dan lubang (m-3)
                µn dan µp                 = mobilitas elektron dan lubang (m2 V-1 s-1)
                    = konduktivitas (S cm-1)
Karena timbulnya lubang dan elektron terjadi secara serentak, maka pada semikonduktor murni, jumlah lubang sama dengan jumlah elektron atau dituliskan sebagai :                                          n = p = ni .............................................................(1.3)
dimana n i disebut sebagai konsentrasi intrinsik. Beberapa properti dasar silikon dan germanium diperlihatkan pada tabel 1.
Tabel 1 Beberapa properti dasar silikon dan germanium pada 300OK
2.2.2 Semikonduktor Ekstrinsik (Tak Murni)
Kita dapat memasukkan pengotor berupa atom-atom dari kolom tiga atau lima dalam
tabel periodik (memberi doping) ke dalam silikon atau germanium murni (lihat gambar
7). Elemen semikonduktor beserta atom pengotor yang biasa digunakan diperlihatkan
pada tabel 2.
Tabel 2 Elemen semikonduktor pada tabel periodik

2.2.2.1 Semikonduktor tipe-n
Semikonduktor tipe-n dapat dibuat dengan menambahkan sejumlah kecil atom pengotor
pentavalen (antimony, phosphorus atau arsenic) pada silikon murni. Atom-atom pengotor (dopan) ini mempunyai lima elektron valensi sehingga secara efektif memiliki muatan sebesar +5q. Saat sebuah atom pentavalen menempati posisi atom silikon dalam kisi kristal, hanya empat elektron valensi yang dapat membentuk ikatan kovalen lengkap, dan tersisa sebuah elektron yang tidak berpasangan (lihat gambar 7).

Dengan adanya energi thermal yang kecil saja, sisa elektron ini akan menjadi elektron bebas dan siap menjadi pembawa muatan dalam proses hantaran listrik. Material yang dihasilkan dari proses pengotoran ini disebut semikonduktor tipe-n karena menghasilkan pembawa muatan negatif dari kristal yang netral. Karena atom pengotor memberikan elektron, maka atom pengotor ini disebut sebagai atom donor. Secara skematik semikonduktor tipe-n digambarkan seperti terlihat pada gambar 7.



Gambar 7 a) Struktur kristal silikon dengan sebuah atom pengotor valensi lima
menggantikan posisi salah satu atom silikon dan b) Struktur pita energi
semikonduktor tipe-n, perhatikan letak tingkat energi atom donor

2.2.2.2 Semikonduktor tipe-p
Dengan cara yang sama seperti pada semikonduktor tipe-n, semikonduktor tipe-p dapat dibuat dengan menambahkan sejumlah kecif atom pengotor trivalen (aluminium, boron, galium atau indium) pada semikonduktor murni, misalnya silikon murni. Atom-atom pengotor (dopan) ini mempunyai tiga elektron valensi sehingga secara efektif hanya dapat membentuk tiga ikatan kovalen. Saat sebuah atom trivalen menempati posisi atom silikon dalam kisi kristal, terbentuk tiga ikatan kovalen lengkap, dan tersisa sebuah muatan positif dari atom silikon yang tidak berpasangan (lihat gambar 8) yang disebut lubang (hole).  Material yang dihasilkan dari proses pengotoran ini disebut semikonduktor tipe-p karena menghasilkan pembawa muatan negatif pada kristal yang netral. Karena atom pengotor menerima elektron, maka atom pengotor ini disebut sebagai atom aseptor (acceptor). Secara skematik semikonduktor tipe-p digambarkan seperti terlihat pada gambar 8.

Gambar 8 a) Struktur kristal silikon dengan sebuah atom pengotor valensi tiga
menggantikan posisi salah satu atom silikon dan b) Struktur pita energi
semikonduktor tipe-p, perhatikan letak tingkat energi atom aseptor.





Gambar 8 a) Struktur kristal silikon dengan sebuah atom pengotor valensi tiga
menggantikan posisi salah satu atom silikon dan b) Struktur pita energi
semikonduktor tipe-p, perhatikan letak tingkat energi atom aseptor.




 n seperti terlihat pada gambar 8.


Gambar 8 a) Struktur kristal silikon dengan sebuah atom pengotor valensi tiga
menggantikan posisi salah satu atom silikon dan b) Struktur pita energi
semikonduktor tipe-p, perhatikan letak tingkat energi atom aseptor.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar